Seperti sebuah pertemuan, perpisahan pun berjalan beriringan bersama. Seperti perputaran waktu, akan ada akhir untuk segalanya. Bahkan bagi sebuah lingkaran yang bulat. Di garis yang tak berujung itu, pasti ada titik dimana semua bermula dan berakhir.Titik dimana mungkin semua orang telah lelah melewatinya tetapi tak akan pernah bisa lepas tanpanya. Tempat dimana tangis dan tawa menghiasinya. Saat dimana suka dan duka terukir dalam takdirnya. Saat tautan itu terikat atau terlepas tak kasat mata. Disitulah saatnya untuk belajar menerima. Disanalah saat senyuman tulus diuji tanpa terasa. Disaat itu semua mulai berbeda. Memiliki cara pandang yang berbeda. Berjalan dari sudut yang berbeda. Atau berbicara dan tersenyum dengan makna yang berbeda, semua akan berjalan sesuai alurnya. Seperti mentari yang berganti rembulan. Seperti muda yang menjadi tua.
Setiap hal memiliki waktunya sendiri. Berjalan pada jalurnya sendiri. Dengan halangan yang pasti akan mengikuti. Seperti berlalunya hari dilengkapi terbenamnya  sang matahari. Begitu pula hidup yang penuh keajaiban yang berarti.Tak seperti tenggelamnya matahari atau munculnya gerhana yang mampu diprediksi. Tapi seperti takdir yang berjalan tanpa bisa “disetir” sendiri. Hidup yang penuh kejutan tanpa pernah sunyi. Dan hidup yang berarti jika mampu dipahami.
Tanpa bisa dipungkiri, hidup tak kan pernah berlari sejauh rembulan melewati sunyi. Sejatuh meteor ke bumi. Atau seberbeda hitam dan putih. Akan ada satu hal yang menghiasi. Sang kemurnian sejati, diri sendiri.Tapi itulah keindahan yang murni. Disitulah kepastian sejati. Dan disanalah orang mampu bermimpi.
14 Februari 2014
Empat puluh empat hari telah berlalu dari tahun 2013. Yang berarti telah empat puluh empat hari pula kulewati tahun 2014.Padahal kurasa baru kemarin aku mendengar suara letus kembang api mewarnai langit kota Bandung.Baru kemarin aku memulai hidup sendiri di ibukota Jawa Barat ini sendiri sebagai seorang mahasiswa Agustus lalu. Dan baru kemarin aku menangis menerima surat kelulusanku di bulan lahir Ibu Kartini. Waktu berlalu begitu cepat. Bagai peluru yang membelah angin. Tak kan bisa dihentikan, apa lagi diulang. Memori yang terjadi ditahun 2013 perlahan mulai menghilang terbawa oleh detakan waktu yang terus begerak dengan cepat. Saat indah yang membawa senyum. Saat sedih yang membawa kekuatan. Rasa haru yang menghangatkan hati. Dan rasa legayang terus membawa syukur. Perlahan terhapus. Meski aku menolak dan memberontak, kenangan itu akan berlalu begitu saja.

Malam ini begitu tenang. Gunung yang meletus kemarin malam membuat langit yang biasanya berhias kerlingan bintang dan kelembutan dewimalam kini terutup debu yang kudengar berbahaya.Kukecilkan volume lagu yang sedangmengalun dari laptop tercintaku. Lagu yang kudengar terasa lebih indah dari biasanya. Kubuka buku kuning yang telah menemaniku setahun ini. Buku yangtertulis The Journey disampulnya. Buku yang akan terus mengingatkanku akan kenangan yang tak ingin ku lupakan. Terlihat dihalaman pertama dimana profil kutertulis didalamnya dengan kalimat terakhirnya “ aku hanya akan menyebutkan nama, alamat dan tanggal lahirku karena kau akan lebih tau aku yang sebenarnya nanti “. Ku baca satu persatu lembar penuh makna itu, dengan sesekali tersenyum. Hingga halaman terakhir yang kutulis, tanggal 20  Januari 2014. Aku tersenyum tipis. Sudah lama memang. Tapi kini aku menyadarinya. Aku telah mampu mengatakannya. Perasaanyang selalu kututup rapat. Aku mampu menuliskannya tanpa kebohongan setitikpun.Meski tak banyak yang aku tulis, tapi aku sadar, aku telah jujur pada diriku.

Tulisan itu, tiap katanya berasal dari hatiku. Tiap kalimatnya perlahan melepaskan gundahku, sedihku dan bahagiaku. Tiap paragrafnya mengatakan perasaanku. Aku semakin sadar menulis itu tak hanya menjadi  sebuah kegiatan bagiku. Tak hanya menggambarkan perasaanku saat itu. Tapi juga meruntuhkan pintu hati yang kukunci rapat. Kejujuran hati yang terus tersembunyi. Kesendirian hati yang tak pernah terobati. Tanpa sadar tulisan itu mengusir pergi rasa sepiku, membuat kumerasa tak sendiri. Lebih dari itu, membuatku berhenti berbohong dan bersembunyi.

Saat aku bersedih, aku terus berpkir aku tak apa tanpa bisavmengungkapkannya. Saat bahagia aku hanya mampu tersenyum tanpa menunjukkannya.Saat aku gundah aku hanya mampu menggigit kuku tanpa tahu solusinya. Hingga akhirnya semua memori itu tehapus dengan sendirinya, bahkan tak kusadari. Tapi saat kutuliskan rasa sedihku, aku mampu menangisinya. Saat aku bahagia aku mampu mengatakannya. Dan saat aku gundah, aku mampu menyelesaikannya. Tulisan itumengevaluasiku. Tulisan itu  membuat kumampu mengekspresikan diriku. Membuatku melakukan hal yang sebelumnya sulitkulakukan.

Tangis itu. Tawa itu. Gelisah itu. Kini aku bisamengenangnya. Aku bisa terus merasakannya. Itu tak hanya menjadi memori. Tapi jam yang selalu berdentang yang selalu mengingatkanku kan diriku. Hal yang sacral ditengah semua perbedaaan, diriku. Membuat hatiku terus terasa hangat. Tak peduli sedingin apa hari itu. Saat aku menuliskannya, aku bisa merasakan dinginitu. Perlahan tapi pasti, aku mampu memperaiki sikapku yang dingin dan mulai memandang kesekitar. Mengatakan apa yang aku rasakan. Berusaha lebih jujur lagi.

Meski waktu berlalu semakin cepat, aku tak akanmelupakannya. Meski hatiku mendiamkannya, aku akan terus jujur. Memperlihatkan ketulusanku dengan tinta yang terus menggores lebaran putih itu. Meski aku taksadar sejak kapan aku mulai menulis, tapi aku bahagia waktu itu datang. Saataku mampu mengatakannya tanpa rasa menyesal atau pun takut. Saat aku mampu  mengungkapkannya menjadi barisan kata yang penuh makna. Saat aku mampumenyadari siapa diriku. Bagai cermin yang terus mengatakan kebenaran. Memantulkan rasa yang tak pernah berubah seperti saat menuliskannya.

Perlahan rasa jujurku terbuka, begitu pula kesempatanku untuk berpikir lebih baik. Daripada lari dari masalah seperti dulu, aku menemukan problem solvingku disetiap lembar tulisanku. Perlahan tapi pasti masalah itu, aku mampu mengatasinya. Ku mampu menghadapinya dengan baik dan menjadi memori yang terus kutulis huruf demi hurufnya. Aku terus berkaca darimasalh dan tulisanku. Aku menjadi lebih dewasa.Menjadi lebih berani. Menjadi lebih kuat tiap harinya. Mulai berjaan dengan berbagai memori yang akan menjadi pengalaman, dan mampu menjadi guru yang terbaik saat semua rasa mulai melengkapi hari hariku yang terasa lebih berarti.

Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti. Hingga kini kusadari sepenuh hati. Belajar menulis berarti belajar membuka hati. Belajarjujur pada diri sendiri. Belajar berani menatap diri.Belajar mengerti diri sendiri.Belajar mengatakan apa yang ada dihati. Belajar mengoreksi. Belajarmenelesaikan masalah yang dihadapi. Tulisan itu sungguh, telah banyak merubahku.Menjadi aku yang berbeda. Aku yang berteman. Aku yang jujur. Dan aku yang dewasa.

Tulisan itu bukan hanya sebuah rangkaian kata, tapi juga kejujuran hati, cerminan diri, dan pelajaran tiap hari.


Tak pernah ada kata maaf yang terucap dariku untukmu
Tak pernah ada kata terima kasih yang kukatakan padamu
Tak pernah ada kata sayang yang kuungkapkan padamu

Karena kupikir aku terlalu malu mengatakannya langsung padamu. Aku tak bisa melakukannya. Tanpa sadar aku menjadi berpura pura tak peka padamu, tak peduli dengan perasaanmu, tak mau mengerti hatimu.Aku melakukan apapun tanpa mau tahu kau merasa sulit. Kau takut menjadi tak adil, kau takut menyakiti hati kami, kau takut kami tak bahagia. Hingga kau tak kuaa menolak semua. Meskipu pada akhirnya kau yang menderita. Dan kami masih belum bisa mengerti dengan terus memaksakan kehendak kami padamu. Kembali dan terus mengulang kesalahan yang sama padamu.

Buah hati yang kau harapkan dapat sukses ini sudah banyak membuatmu kecewa. Dengan harapan  besar kau melepaskanku ke pesantren. Melepaskan egomu untuk bersamaku agar aku bisa menjadi dewasa dan menjadi anak yang solikha. Mengeluarkan biaya yang tak sedikit agar aku mau dan bisa masuk. Tapi, sekali lagi, aku mengecewakanmu. Tak hanya menghamburkan banyak uang, terus saja sakit, hingga akhirnya kau memenangkan egoku untuk kembali pada “kebebasan”. Memupuskan impian masa kecilmu untuk pergi kepesantren demi keegoisanku. Membuat uang yang kau kirimkan untukku yang diharapkan mampu membauatku nyaman, terbuang sia sia. Karena aku yang mengalah pada egoku yang tak mau diajari hidup sederhana.

 Anakmu yang tak mampu apa apa bahkan hanya dengan mengatakan maaf padamu ini sudah dewasa. Ia merasa sudah cukup untuk bisa mengatur semuanya sendiri. Ia pikir ia bisa mengatasi semuanya. Ia pikir ia akan bisa mengendalikan semuanya. Namun, pada akhirnya hanya membuatmu semakin susah dan repot. Aku tak bisa mengatur semuanya. Aku tak bisa mengatasinya. Dan aku tak bisa mengendalikannya. Sendiri. Aku, untuk kesekian kalinya membuatmu menderita.

Kau, yang selalu mengkhawatirkanku, memikirkanku, dan bersamaku. Kau, selalu bertanya padaku apa aku sudah makan sementara kau belum menelan sesuap nasi pun. Kau, yang selalu bertanya apa aku sehat sementara kau sedang menahan rasa sakit. Kau, yang setiap aku pulang menyisiri rambutku dan bercerita tentang masa kecilku. Meski aku sangat menyusahkanmu saat itu, kau bercerita dengan penuh senyuman.

Seperti air mancur di pegunungan, setinggi apa pun tanah itu memuntahan airnya tapi tak akan lebih tinggi dari pegunungan yang menjadi puncak yang mengairi. Begitu juga aku padamu. Sekeras apapun aku berusaha membalasnya bahkan itu tak ada bandingannya dengan tetesan air susu yang kau berikan untukku. Sebanyak air laut yang ku pandang bersamamu dulu bahkan tak mampu mengantikan bulir keringat yang kau teteskan untukku. Sebanyak apapun langkah yang aku tempuh hingga saat ini tak akan mampu membandingkannya dengan derai air matamu untukku. Air ku tak akan pernag bisa menyamai puncak gunungmu.

Senyum tulusmu
Belaian lembut tanganmu
Dekapan hangatmu
Raut wajah yang selalu kurindukan

Aku akan berusaha lebih baik lagi. Aku tak akan mengecewakanmu kali ini. Aku akan membawa senyum bangga untukmu kali ini. Aku akan membawa derai air mata bahagia kali ini. Aku akan bersungguh sungguh kali ini.

Jika didunia ini ada reinkarnasi atau ada kehidupan dari awal lagi, aku akan berdoa kepada Tuhan dengan seluruh hati dan perasaanku agar Ia mengizinkanku untuk kembali menjadi anakmu.Menjadi orang yang sangat beruntung bisa mengenal dan menyayangimu.

Maaf untuk semua yang tak termaafkan
Terima kasih untuk yang tak mampu ku balas
Dan aku menyayangimu untuk semua sayang yang tak mampu aku ungkapkan


Love You


Your Little Girl
Hildatun Najah
( My Last Day in home, Kamis  17 Oktober 2013 )


Aku terpaku mengingat masa laluku. Aku jadi rindu keluarga dan teman temanku. Sedang apa kalian disitu? Aku tersenyum mengingat dulu, betapa polosnya aku. Tak sadar tertawa sendiri mengingat memori. Hingga tak terasa konser dengan ribuan penonton itu telah usai. Meninggalkanku yang masih tersenyum mengingat kenangan. Tepat setelah aku menutup layar laptop yang selalu menemani hariku, Teh Kiki memanggilku. Ia berkata bahwa ia sudah selesai dan kini giliranku yang masuk. Aku kembali memfokuskan pikiranku. Berpikir sejenak apa yang akan kulakukan hari ini. Seraya berpikir aku mengambil peralatan mandi dan baju gantiku.
Kupijaki jajaran tangga dibawahku. Satu satunya penghubung lantai atas dan bawah. Setelah mandi dan merapikan diri, ku turuni tangga dengan hati hati. Tangga itu masih basah karena efek hujan semalam. Kueratkan lagi sweater hijauku. Udara pagi ini cukup dingin. Bersama embun dan hawa sejuk ku sususuri jalanan guna mengais ilmu. Kulirik lagi Kitab Tafsir Jalalain yang ada dalam dekapanku. Aku akan mengaji pagi ini.
Kusantap makanan yang telah kumasak tadi. Sederhana, hanya nasi goreng dengan telur. Kukira cukup untuk mengisi karbohidrat sebagai sumber energiku pagi ini. Ah, kenyangnya. Segera kutaruh piring kotor didekat rak. Bukannya jorok dan tidak mau mencuci, tapi semua sudah terjadwal dan ini bukan jatahku untuk membersihkan piring piring itu. Ku cek lagi tugas dan barang barang yang harus kubawa degan sebuah piscok terjepit diantara bibirku. Sebagai penutup kumakan pisang coklat yang manis itu lalu meminum segemas air dari gelas kaca biruku. Oke, sepertinya tugasku sudah selesai semua dan tak ada barang yang tertinggal.
Aku berjalan menelusuri sepi. Bersama dengan mentari pagi yang menghangatkan bumi. Aku kembali melakukan rutinitasku sebagai mahasiswa. Mandi,  mengaji, lalu sarapan, mengecek tugas dan berangkat kuliah. Hal yang terus kuulang setiap pagi.
Kulangkahkan kaki melewati jalan setapak yang biasa kulalui. Berjalan dengan ditemani suara kelima remaja yang kini sudah menjadi dewasa. Menemaniku melawan rasa sunyi yang membuatku merasa sendiri.
Tiba tiba dari arah belakang kudengar suara gemuruh langkah kaki. Dengan sigap kugeser tubuhku kesamping. Dan benar saja, kulihat anak anak SMP berlarian saling mengejar. Dari raut wajah mereka terlihat bahagia. Itu masih dunia mereka. Bermain dan tertawa. Entah kenapa hati ini terasa hangat dengan sendirinya beriring dengan senyum yang tanpa kusadari terpatri diwajahku. Sungguh pemandangan yang indah.
Kehangatan itu menjalar dan merangsang saraf memoriku kembali. Kembali mengingat masa dini. Masa yang kulalui hingga aku bisa seperti sekarang ini. Dan mulai membandingkannya dengan mereka yang tengah berlari. Kisahku dulu ialah seperti ini.


Aku terbangun dari mimpi indahku, menonton konser dengan tiket VIP. Mimpi yang begitu menyenangkan dan andai bisa terwujudkan. Namun sayang aku terbangun sebelum konser dimulai. Gagal sudah harapanku melihatnya walau hanya lewat mimpi. Perasaan sebal menggelayut hatiku. Sayup sayup kudengar suara yang terasa familiar. Suara apa kira kira ini?
Ah!
Ini suara Baekhyun yang berarti alarm handphoneku berbunyi. Segera kuraba sekelilingku mencari benda kotak yang sangat penting bagiku itu. Kusipitkan mataku, membiarkan cahaya terang lampu merasuk ke retinaku. Mematikan alarm dan melihat waktu sekarang.
Pukul 02.15.
Masih cukup malam rupanya. Aku pun bangun dan memperhatikan sekeliling. Kulihat beberapa orang roommateku sedang mengobrol. Langsung saja kutanyakan pertanyaan yang yang sudah sangat biasa dikamarku.
“Siapa yang terakhir dalam antrian?” tanyaku
“Teh Kiki” jawab salah satu diantara mereka. Kulihat sang pengantri terakhir. Masih tertidur rupanya. Seperti biasa setelah mendaftar antrian kami akan tidur kembali. Aku pun melangkah dan membangunkan Teh Kiki. Ia terlihat dengan setengah mengantuk merespon permohonanku untuk mandi setelahnya dengan lenguhan. Aku pun kembali keatas kasur lantaiku. Duduk diatasnya dan terdiam. Apa yang mau aku lakukan sekarang? Entah kenapa rasanya aku tak mengantuk. Mungkin efek sebal karena mimpi yang tertunda masih menguasai hatiku. Aku kembali memandang sekitarku. Temanku yang tadi mengobrol kini sudah kembali merajut mimpi mereka sambil menanti giliran.
Ku letakkan meja didepanku dan kutaruh laptop diatasnya. Kubuka laptop lawas yang tak mau kutinggalkan. Kunyalakan dan kupasang headset. Aku tak ingin mengganggu mimpi roommateku yang sedang tertidur dengan lagu tema yang selalu mengalun ketika laptopku menyala. Sekarang apalagi? Aku kembali bingung setelah laptoku hidup.
Baiklah. Untuk mengganti mimpiku yang terputus tadi ayo kita menonton konser. Kuarah kan kursor untuk membuka folder SHINee, boyband yang menjadi number one dihatiku. Ku klik ikonnya dan video pun dimulai. Terdengar suara teriakan histeris orang orang yang menyaksikan konser itu secara langsung. The SHINee World Tour, itu yang tertulis dilayar background tempat lima orang luar biasa itu berdiri. Teriakkan semakin menggema ketika salah satu dari mereka mulai bernyanyi.
 Tak terasa sudah 5 lagu berlalu. Mereka pun telah berganti baju dari hitam menjadi jas hitam putih yang elegan. Menampilkan aura dewasa mereka. Seolah mengungkapkan perubahan image mereka dari remaja kepada kedewasaan seiring dengan umur mereka yang bertambah pula. Life. Lagu yang mengalun dari bibir indah mereka. Lagu yang menceritakan tentang saat berada titik terendah dalam hidup. Suara lembut mereka membawaku pada kilatan bayangan hidupku. Kilatan itu terus menyambung hingga terasa bagai jalan yang terus menyambung. Jalan hidupku yang membawa dan menggoreskan warna baru dihidupku yang sangat berharga. Dan inilah perjalananku.
Ternyata  bukan Wu Yifan yang tak mengerti, tapi dunia yang tak tahu.